Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

PENYERGAPAN

on June 3, 2012

Ini agak lebay sih sebenarnya judulnya, hehe… waktu itu saya sedang mengajar anak-anak di daerah mipitan belakang kampus. Seperti biasa anak-anak ‘belajar’ ramai sekali. Ada yang ingin belajar matematika, ada yang ingin IPA, IPS, juga bahasa Inggris. Wah, gurunya cuma satu ini, hehe…walaupun mumet apa boleh buat, ngasih soal disini, bahasa soal disana, nyuruh baca yang satunya. Ehm…lebih tepatnya menyenangkan.
Sebelum datang ibu itu. Siapa? Ada sesosok ibu yang mengintip kegiatan kami dari luar jendela. Wajahnya marah, dan anak-anak mulai melihatnya dengan agak panik. Saya yang tidak mengenal sama sekali daerah itu agak grogi juga. Dari luar jendela, ibu itu bertanya (bahasa Indonesianya) “Ini siapa yang ngadakan belajar-belajar kayak gini?!!” Wuuuaaa…saya coba tenang dan tersenyum, lalu saya persilahkan ibu itu masuk walau dalam hati saya sudah berprasangka yang bukan-bukan. Munginkah ini sebuah penyergapan karena warga tidak suka dengan kegiatan kami. Mungkinkah saya akaan dianiaya dan anak-anak akan menangis? *pikiran-pikiran ala-ala sinetron mulai berdatangan
Dengan maksud menyelamatkan diri dan sedikit egois saya agak berteriak memanggil mbak dian (yang punya rumah) untuk mencari perlindungan begitupun anak-anak. Entah dialog apa yang terjadi, tapi setelah beberapa saat salah satu murid bernama Ririn, diseret paksa untuk pulang sambil ibunya berkata, “Ririn jadi gak karuan semenjak ikut-ikutan disini”. Dia yang masih ingin belajar terpaksa mengemasi buku-bukunya dan pulang bersama ibunya. Waduh…apa yang salah ya…
Sejenak kami hening. Lalu ada anak yang berceloteh, “Ibunya Ririn kan gila mbak…”
Oohh… sekarang saya paham. Memang ada banyak yang harus diperbaiki. Pertama, walaupun kegiatan yang kami lakukan ini positif dan gratis pula tetap harus ada komunikasi dengan orang tua sehingga orangtua tidak menganggap anaknya sedang bermain-main. Hmmm….agak ribet juga ya mau berbuat baik, haha. Begitulah hidup bermasyarakat. Kedua, kejadian tadi sangat riskan untuk Ririn, karena teman-temannya jadi tau. Disini, sangat perlu untuk memberikan pengertian pada anak-anak tentang menghargai orang lain dan membesarkan hati orang lain. Nah, tapi bagaimana ya caranya? Sebagai guru kita harus bisa. Minimal diberitahu.
Mungkinkah murid saya kelas 3 akan berkurang 1 minggu depan? Wallahua’lam…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: