Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Dan Air Mata Pun Menetes, Anies Baswedan.

on June 3, 2012

Jum’at, 25 Mei 2012. Sebuah kado kelulusan yang indah. Apa itu? Pak Anies Baswedan. Lho, apa hubungannya? Saya ngefans abis sama pak Anies. Berkali-kali melihat namanya sebagai calon pembicara seminar di kampus. Tapi pasti ada tanda bintangnya (*). Artinya: dalam konfirmasi. Artinya lagi: kemungkinan buesar sekali gak datang. Tapi kali ini beda karena yang mengundang adalah Solo Mengajar. Jauh-jauh hari saya mendengar slentingan bahwa Pak Anies pasti datang. Saya pun makin bersemangat tidak pulang. sejam sebelum mulai saya sudah standby di garda terdepan bersama beberapa kawan. Lama juga acaranya molor, hehe
Dan yang ditunggu pun akhirnya datang, Pak Anies Baswedan memasuki ruangan bersama pak dekan, pembantu dekan, dan beberapa kru indionesia mengajar. Entah kenapa ketika melihat pak Anies dari dekat hanya beberapa meter saja, saya menitikkan air mata. Eh, bukan ding lebih tepatnya menangis, karena airmatanya gak berhenti-berhenti, hehe…. Saya pun tidak menyangka akan selebay ini. Mungkin fans suju itu pas melihat idolanya merasakan apa yang juga saya rasakan. Tapi kan saya tidak lebay sampai teriak-teriak dan sebagainya, hahaha…
Kenapa saya mengidolakan pak Anies. Lebih tepatnya bukan karena cakep dan gelar Ph.D nya. Tapi saya kagum dengan ide-idenya, dalam hal ini Indoensia mengajar. Yang ada dalam pikiran saya adalah… “Kalau pahalanya pak Anies itu dihitung-hitung waaahhh….dia menjadi pemrakarsa Indonesia mengajar dan itu menginspirasi banyak orang dan entah sudah berapa anak-anak yang menemukan cita dan cinta dari para pengajar muda dan kelak anak-anak di pelosok itu sukses pak anies yang tidak turun kebawah pun akan dapat jatah kiriman pahala. Itu yang membuat saya suka, dan lebih tepatnya iri, iri dengan ide briliannya dan gerakan yang diprakarsainya. Saya ingin seperti beliau juga, menjadi pemrakarsa dan dapat kiriman pahala yang banyak….hehe. karena saya sudah mendapat lampu merah dari kedua orang tua saya untuk ikut program ini, maka saya membesarkan hati dengan “hanya Allah yang lebih tau bagaimana menilai sebuah perjuangan.” Entah itu di pedalaman atau kota besar, pengabdian tetaplah pengabdian, bahkan ketika pengabdian itu tidak kasat mata, Allah tau.
Dari kuliah umum yang sempat dibawakan saya mencatat beberapa hal (Cuma sedikit karena sisanya saya terpesona dengan pak anies haha):
1. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan
2. Jangan hanya mengenalkan mimpi-mimpi, tapi juga ajarkan bagaimana meraihnya
3. Indonesia mengajar bukanlah sebuah program, ini adalah sebuah gerakan
4. Para pengajar muda harus bisa menjadi visualisasi mimpi murid-muridnya
5. Indonesia mengajar tidak menawarkan paket, program, dan kebanggan, tapi mengobati saudara kita yang sedang sakit, sakit kebodohan
Dalam kesempatan yang sangat langka ini pula saya paksakan diri untuk bertanya, walau pertanyaanya jauh dari bermutu, hehe…ada juga tandatangan dan pesan dari pak Anies,
Atin,
Jaga Stamina MORAL, INTELEKTUAL, dan FISIK, jalan masih panjang.
25/05/12
Anies Baswedan.
Oiya, satu lagi, ternyata keluarga Anies Baswedan memang dari dulu sudah terkenal dalam arti orang-orang berpengaruh, hehe… saya jadi dapat inspirasi. Untuk mendapatkan cucu yang berkualitas kita harus mencari pasangan hidup yang berkualitas pula, hehe… nah, ukuran kualitas ini yang jangan sampai di salah artikan. Bukan gelar tinggi, kekayaan, dan jabatan tapi kualitas secara syumul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: