Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Cerita Bapak dan Ibu: Penyala Semangat

on June 3, 2012

Setiap kali aku mengeluh, bapak dan ibu selalu punya cerita indah yang membuatku sadar, menangis, dan malu. Bapak punya cerita tentang masa kecilnya. Dua bersaudara dan ditinggal ayah sejak masih kecil. Bapak adalah anak yang tertua dan punya kewajiban menjaga adik satu-satunya. Simbah putri adalah pekerja keras, beliau adalah pedagang yang menggendong dagannya setiap hari menepuh jarak sekitar 20 km. Bapak juga sering diajak memikul dagangan. Berangkat jam 2 pagi. Kalau simbah tidak pulang beberapa hari maka tidak ada yang memasak, tetangga yang akhirnya memberi makan dengan lauk satu tempe untuk berdua. Bapak dulu sekolahnya agak jauh sekitar 5 km dan berjalan kaki setiap hari, waktu SMA bapak kos dengan om di satu tempat, satu dipan berdua dan banyak hewannya. Bapak lebih beruntung karena pendidikannya ditanggung simbah buyut yang lebih dermawan daripada simbah, hehe… masuk UNS dengan nyontek jawaban peserta di depannya ketika SPMB. Kehidupan bapak di solo pastinya tidak seindah aku sekarang. Berbohong ke kondektur bisa dan penipuan yang lain sering dilakukan bapak untuk bertahan hidup, lebih tepatnya bertahan sekolah… Oiya, ternyata sebelum kuliah bapak sempat jadi pengangguran dan menjual jamu, ternyata simbah kakung saya dari ibu dulu adalah pelanggan bapak. Bapak sempat diragukan saat melamar ibu karena dulunya tukang jamu, yang berevolusi menjadi cpns… bapak adalah orang yang lembut, sabar, pendiam, tapi visioner. Bapak tidak pernah memarahi saya kecuali sekali waktu saya main ke sragen kota bersama teman2 tanpa minta ijin, memarahinya pun sambil menangis… sekalipun saya jatuh dari motor bekali-kali, menghilangkan laptop, handphone, bapak tidak pernah marah
Ibu adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Simbah putrid dulu pedagang dan simbah kakung pegawai malaria. Walau hidup pas-pasan, simbah kakung sangat memperhatikan pendidikan. Ibu sendiri lulus SMA. Bagian yang menarik dari kehidupan ibuk adalah keberaniannya. Ibuk terbiasa kemana-mana sendiri dengan modal peta dan uang. Resiko anak tertua yang harus menjadi mandiri sebelum yang lain. Ibu punya cita-cita tinggi tapi selalu gagal.hampir menjadi polwan berkali-kali tapi selalu gagal. Ingin jadi mahasiswa pun tidak lolos snmptn. Sampai sekarang ibu masih sering meratapi nasibnya, hehe… justru itulah motivasi bagi saya untuk membuat ibu saya bangga. Saya harus menjagdi lebih baik supaya ibuk bangga menjadi ibu rumah tangga yang mendidik anaknya dengan tangannya sendiri… Ibu saya punya banyak keterampilang dari salon hingga menjahit. Dulu ibuk punya salon juga, tapi kemudian tutup karena bosan, sekarang juga ibuk berkali-kali mengutarakan keinginannya untuk berhenti menjahit dan berpindah ke kegiatan berkebun. Satu hal yang sangat saya ingat, waktu saya kecil saya bertanya pada ibu perihal tanggannya yang ada kapalnya (benjolan yang keras di kulit), “Ibuk kog tangane enten koyo ngene ne..” lalu dijawabnya, “lha kanggo numbaske mie ayam adik nok…”. Dulu saya masih bingung, tapi sekarang saya sudah paham maksudnya. Ibu saya adalah orang yang perfeksionis ayng diturunkan ke saya sekarang dan bersumber dari simbah kakung, hehe…
Seberapa sukses orang tua mendidik kita? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Sekalipun kita menganggap orang tua gagal, nyatanya kita bisa tumbuh sebesar ini atas tetes keringat dan lelah pikirnya yang tidak ternilai…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: