Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

SECUIL KISAH INDAH , BEM BERKARYA

on May 10, 2012

Tahun 2010 adalah tahun yang amat berkesan bagi saya, salah satunya keterlibatan saya di BEM FKIP UNS sebagai kepala divisi informasi dan komunikasi. Jabatan yang biasa saja tapi menjadi berat ketika saya ditinggal pergi selama-lamanya oleh menteri saya, menghadap Rabbnya dalam keabadian.

Bukan itu yang ingin saya ceritakan, tapi keluarga saya disana yang mengajari saya banyak hal tentang hidup dan sesuatu bernama politik hingga indah (dan beratnya) kata dakwah.

Memang, kami tak selalu harmonis. Presiden kami kala itu, mas wachid yahya yang juga menjabat sebagai sekjend imakipsi (kumpulan mahasiswa FKIP se Indonesia gitu lah), beliau sering sekali jalan-jalan, tugas dinas katanya. Hal itu membuat kami yang bertahan di solo sering dilanda kegalauan.

Selain presiden yang agak aneh, saya juga mempunyai kakak-kakak yang baik. Ada mbak asti (yang lebay dalam ketegansannya), mbak riris (diam tapi cekatan), mbak woro (slow but sure orangnya, gaul punya), mas wicak (didepannya saya pernah nangis2 gara-gara stress mikir buletin). Ada juga teman2 saya yang lucu dan imut. Ada arip, galih, umam, ardi, cipto, anwary, aziz, pak sur, TM, sari, afifah, hencil, muti, ela, nise, dan dian yang tergabung dalam beberapa geng, contohnya geng geblek dang eng umplek2. Bersama mereka saya belajar banyak hal. Tentunya bukan hanya hal-hal indah yang tercipta. Berkali-kali saya dibuat kecewa dan putus asa (mungkin itu juga yang saya lakukan pada mereka, hehe).

Satu tahun memang bukan waktu yang cukup lama untuk bisa saling mengenal. Saya mungkin belum mengenal mereka dengan baik, tapi saya mencintai mereka dengan baik. Sekarang kami sudah berbeda-beda amanah,namun selalu ada kerinduan untuk mengenang masa lalu dan sekedar bercerita tentang keadaan sekarang. Biasanya sambil makan-makan dan ngumpul dimana. Dan selalu saya yang jadi PJ menghubungi, menentukan tempat, hingga sering kali membayari. Untuk yang terakhir ini bukan berarti saya paling kaya, lebih tepatnya saya yang dikorbankan. Sering teman2 bilang mau mensubsidi atau bahkan mentraktir. Buktinya? Omong kosong, dan akhirnya saya harus merelakan atm bobol atau gaji ngelesi musnah seketika. Rasanya ingin marah, tapi melihat kebersamaan yanag tercipta dan indahnya kebersamaan saya selalu menemukan alas an untuk tidak marah, semoga begitu adanya…

Sekarang saya menyadari, kini teman2 saya sudah menjadi orang2 hebat. Mereka menjadi seseorang dan melakukan hal-hal besar sesuai kapasitasnya. Meski mungkin saya tidak berkontribusi dalam proses perkembangan mereka, tapi saya bangga pernah bersama mereka, belajara tentang hidup bersama mereka.

Raga kita mungkin tak lagi bersama. Pikiran tentang keluarga kecil bem berkarya boleh saja tertimbun dengan urusan-urusan lainnya, tapi akan saya pastikan selalu ada alasan untuk kembali saling menyapa dan berbagi cerita. Kalau Allah adalah muaranya, maka ukhuwah ini akan senantiasa terjaga…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: