Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Dari Malang ke Jogja, sebuah keputusan berat yang harus diambil

on May 10, 2012

Perjuangan mendapatkan beasiswa unggulan dikti memang tidak semudah membalik telapak tangan. Khususnya bagi saya. Rasanya banyak halangan yang menghadang (yang biasanya disebabkan kondisi saya yang sedang jauh dari takwa dan kurang sedekah, astagfirullah, tapi semoga kali ini bukan). Baiklah, untuk mengawali cerita ini, mari memulai dengan apa itu beasiswa unggulan dikti? Beasiswa unggulan dikti adalah beasisw yang diberikan kepada calon dosen dan tenaga kependidikan. Nantinya mereka akan dibiayai kuliah hingga lulus di universitas pilihan masing-masing (tapi hanya ada 12 univ yang ditunjuk tahun ini). Prosesnya setiap orang harus mempunyai surat rekomendasi dari prodi, jurusan, fakultas, dan rector atau pembantu rector 1. Selain itu juga harus mendaftar di univ tujuan dan tentunya mendaftar secara online ke kemdikbud. Dan tujuan saya adalah Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang yang kata Pak Gun, the best English education department in south east asia. Untuk kesini saya mendapatkan dukungan penuh dari dosen-dosen saya dan pak PD3 turut mendukung. Maka dari itu, saya sangat antusias.

Semua syarat pengajuan dikti sudah di tangan tapi syarat ke universitas tujuan belum lengkap. Apa itu? Ijasah. Maklum saja saya baru lulus maret kemarin dan ijasah baru akan diberikan bulan juni saat wisuda nanti. Sebenarnya bisa percepatan tapi pak dekan, pak rector tidak bisa dipercepat tandangannya. Berkali-kali saya mengecek ke pendidikan pusat sampai pekewuh. Inilah perjuangan, tidak perlu sungkan. Tapi takdir berkata lain

Selasa, 8 Mei 2012 antara menjadi idealis dan realistis. Tetap di malang dengan pertaruhan gagal mendaftar dan harus mencoba tahun depan (it means menunda kuliah setahun) atau pindah ke universitas lain yang membolehkan SKL dan transkrip sementara. Sebuah keputusan yang sebenarnya tidak saya pikirkan dengan matang, tapi hati saya mengatakan itu. Ke UGM. Kenapa UGM? Sebenarnya lebih linier ke UNY tapi ujiannya tanggal 20 Mei, nikahan mbak hening (mengingat kegagalan ke Vietnam karena ini, saya tidak mau memupus harapan untuk kedua kali). Apa yang diambil di UGM? Bismilah, Ilmu Linguistik. Apa itu? Saya sendiri tidak begitu paham  Tapi saya adalah mahasiswa yang tekun, serius, dan pembelajar yang cepat (kata dosen saya, hehe), jadi….man jadda wajada. Sebenarnya dosen saya agak kecewa dengan pilihan saya, tapi apa boleh buat, saya hanya bisa berdoa semoga ini yang terbaik.

UGM menutup pendaftaran 10 Mei, sedangkan saya belum punya rekomendasi kesana. Alhasil seharian saya mengurus rekomendasi kesana kemari. Singkat cerita, pak iwan yang baik sangat kooperatif, pak PR1 juga sangat baik dan berkas saya dijanjikan selesai besok, 9 Mei, sehari sebelum penutupan.

Tantangan belum usai. Syarifah, teman seperjuangan saya, mengatakan bahwa SKL formatnya beda dengan SK yudisium jadi harus ngurus lagi. Apa??? Padahal pak PD 1 sedang keluar kota. Entah kapan kembalinya, dan 10 Mei semua harus sudah sampai di jogja.

9 Mei 2012
Ya Allah, telah aku genapkan usaha terbaikku, hari ini adalah bagianmu.

06.00 berangkat ke kampus dari rumah
07.00 bertemu kaprodi untuk minta rekomendasi
08.00 ke bank BNI membayar pendaftaran S2 UGM
08.30 mengambil rekomendasi ke PD 1
09.00 mendatfar online didampingi Dinda dan Ridwan
09.30 mengantar SKL ke fakultas, minta rekomendasi
10.00 mengambil SK rector
11.00 ngeprint ubarampe ketempat reni
12.00 mengurus syarat2 yang lain
12.30 ngisi AAI dengan tanpa persiapan
————-menyadari ada yang hilang, HANDPHONE——————–tapi tidak ada waktu memikirkan itu, entah kenapa saya sangat mengesampingkan hilangnya HP yang sekarang amat saya sesali——————————–
13.00 ngambil SKL dan janjian dengan dosen yang akan memberi rekomendasi dan ternyata dosen saya sudah pulang 
14.00 berangkat ke jogja
15.00 sampai di joga, muter-muter UGM yang luasnya minta ampun
16.30 kembali ke solo dengan perasaan lega dan galau karena HP ilang
17.30 sampai di solo
18.30 menggalau bersama reni
19.30 buka fb di warnet, ngabari hilangnya hape saya ke teman2 yang sekiranya terdholimi karena hape saya ilang
20.00 ngurus kartu hilang
——————————menenggelamkan diri dalam kelelahan perjuangan 2 hari———————————

Sungguh Allah member banyak kemudahan hari ini, walau lagi-lagi saya harus introspeksi. Itulah gunanya hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: