Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Detik-Detik Proklamasi (Kelulusan)

on April 16, 2012

Walaupun Tutik dan Dinda sudah mengatakan bahwa tidak ada yang menyeramkan dalam ujian skripsi, saya masih saja khawatir. Sebenarnya saya merasa tidak yakin dengan penelitian saya, terlalu banyak kekurangan. Terlebih lagi saya dibimbing dua dosen senior dengan title luar negeri, apa jadinya kalau saya memalukan???

Mulai hari jum’at saya mengawali pertapaan. Membuka lembar demi lembar skripsi, memeriksa huruf demi huruf, dan memahami konsep demi konsep. Ya, memang saya merasa yakin, tapi di sela-sela saya bertapa di kamar, saya yakin ada orang-orang yang kecewa dengan keputusan saya terlalu menganggap serius ujian skripsi. Ya, saya ijin di beberapa undangan untuk ujian skripsi ini. Saya masih merasa bersalah sampai sekarang. Semoga Allah memaafkan saya.

Malam sebelum pertempuran tiba. Saya meminta dua sahabat saya, Reni dan Ari untuk melihat saya berlatih. Dan, saya mendapat banyak sekali masukan untuk perbaikan penampilan saya esok hari. Mereka juga membantu saya mengemas semua persiapan, mengecek semua kelengkapan *padahal mereka juga punya perkerjaan sendiri dengan skripsinya, terima kasih ya…Allah yang akan membalas*

Hingga hari H pun tiba, pukul 13.00 saya kan disidang. Namun, Bu ending (kaprodi) belum juga konfirmasi. Ternyata putra bu endang opname di rumah sakit, apakah bu endang tidak akan datang? Bukan itu yang harus saya pikirkan. Saya mengecek kelengkapan lagi, dan KWITANSI IOM SAYA HILANG!

Kenapa selalu saja ada hal-hal tidak terduga di saat-saat penting. Bisa-bisa saya tidak bisa ikut ujian. Keteledoran saya benar-benar parah. Tapi seperti biasa saya tidak bisa panik, justru reni yang agak panic dengan keadaan ini. Ya sudahlah, saya hanya berpikir, “yaudah, ayo ke kantor polisi. Minta surat keterangan hilang, aman kan…”. Reni hanya tersenyum dan dengan senang hati menemani saya melakukan hal-hal gila. Jadilah waktu itu H-2 jam, kami baru membeli snack, ke kantor polisi pula. Dan ternyata pak polisinya tidak mau memberikan surat! Hmm..yasudah. lalu bagaimana?
Saya belum sarapan, lalu saya ajak reni membeli makan dulu…*agak aneh memang dikondisi seperti ini* tapi saya benar-benar belum sarapan dari pagi. Usia sarapan menjelang sholat dhuhur, saya meluncur ke gedung F berharap Bu Tinem punya jurus jitu. Dan benar, saya cuma bilang kwitansi iom saya hilang, lalu set…set…set…jadilah kuitansi yang baru…taarrraaaaa…..! selesai.

Waktu semakin dekat dan bu ending pun mengkonfirmasi tidak dapat hadir, baiklah saya akan disidang 3 dosen senior saja. Tapi….sms dari dinda,
“Tin, gowo’o olor dewe, olor’e LSP kobong.”
Ya, baiklah. Akhirnya Ari yang kena akibatnya… *mengambilkan olor di kos, mengantar 2 tas buku referensi pula.
Kami pun memasuki ruang siding, memasang peralatan dan………..laptop saya gak bisa konek sama LCD.
Ya, baiklah. “ren, pake laptop kamu ya!”
“aku ra gowo charger.”
“yo dijupuk sik no..”
Seperti biasa reni hanya bisa tersenyum keheranan…
Urusan laptop selesai, dan HIPERLINK gak berfungsi!

Ya, baiklah, walo sudah dibuat susah-susah ya sudahlah terpaksa gak dipake, hehe… sudah tidak ada waktu ngutak-atik presentasi, saatnya bertempur.

Saya sedang bercanda dengan Dinda ketika mr.gunarso dan mr.asrori memasuki ruangan dengan wajah ceria. Alhamdulillah, firasat saya sangat baik. Tidak lama berselang, mr.martono datang dengann wajah sedikit menguderestimate, inilah dari kemarin yang saya takutkan… baiklah SHOW MUST GO ON.

Saya menyampaikan presentasi dengan sangat lancar, hehe
Ujian pertama, dari mr.gunarso, bisa saya jawab dengan cukup lancer kecuali bagian akhir-akhirnya
Ujian kedua, mr.martono, semua kelemahan saya dikorek, dan saya tidak bisa berkutik, kekhawatiran saya terwujud sudah, tapi Alhamdulillah sesi mr.martono pun berakhir dengan sebuah pertanyaan yang diawali, “My last question is…..”
Ujian ketiga dari mr.asrori, nyaris saya tidak menemukan kesulitan, dan pertanyaan yang saya tunggu-tunggu dan saya duga pun ditanyakan, mengenai moto saya,
MAN JADDA WAJADA!
Jadi bagaimana nasib saya?
Masih menggantung sampai bertemu dengan bu ending untuk ujian 4 mata.

Terima kasih untuk sahabat-sahabat terbaikku yang mendampingi prosesi bahagia ini dengan SABAR. Semoga Allah membalas dan saya bisa berbuat yang lebih baik, amin…
Last question from reni,
“Atin, mau minta dikado apa wisuda nanti?”
“You have given me all the things ren.”
*&&!%%$!#!^%!&@!(@*!)(*&#&#^%&

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: