Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Mencintai Orangtua=Mencintai Allah…

on March 17, 2012

Saya prihatin dengan bagaimana orangtua memperlakukan anaknya sekarang ini, khususnya yang terjadi pada saya dan teman saya. Teman saya sedang galau karena nganggur. Inisiatifnya untuk memulai wiraswasta tidak direstui oleh orangtuanya. Alasannya? Orangtuanya ingin dia jadi pegawai negeri atau pekerjaan lainnya yang ‘pasti’. Yang terjadi dengan saya? Segera selesaikan S1, ceri kerja, dan segera ambil S2 dan selesaikan. Niat hati pengen melakukan banyak hal. Pengen mengabdi pada negeri dengan cara yang lebih real. Tentunya akan membuat fokus kedua orangtua saya sedikit tergeser. Saya ingin mengambil pelajaran hidup sebanyak mungkin, saya ingin menjadi mandiri dan menantang hidup. Namun, ternyata kasih sayang orangtua saya selalu lebih besar. Saya tidak diijinkan melakukan itu semua saat ini sampai saya selesai S2.

Dan saya tidak bisa memilih, hanya di UNS (kecuali kalau dapat beasiswa ke luar kota atau luar negeri). Alasannya? Agar saya tidak perlu susah-susah menyesuaikan diri, dan agar saya bisa melakukan semuanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan melakukan dengan orang-orang yang sudah saya kenal tentunya (dosen-dosen S2 di UNS sama dengan S1nya, praktis saya akan bertemu dengan dosen-dosen saya lagi, baiklah…). Saya memang anak bungsu yang sampai sekarang masih dianggap anak kecil dan ‘dieman-eman’. Betapa saya harus bersyukur, tapi mengapa saya jadi sedih ya…

Baiklah, mungkin ini cuma egoisme saya saja. Toh, orangtua saya menginginkan yang terbaik untuk saya. ‘Mengorbankan ‘ waktu muda saya untuk menjadi dewasa. Baiklah,saya akan membuktikan bahwa saya ingin hidup mandiri dan mencari tantangan agar saya bisa membentuk diri saya, bismilah…saya semakin semangat mencari beasiswa, entah itu di dalam atau di luar negeri. Semoga ini bukan sekedar egoisme tanpa alasan, kalau iya, semoga Allah segera menyadarkan saya.

Saat ini pun saya sadar, seandainya saya menerima ini dengan senang hati, pasti Allah akan memudahkan jalan saya dan menentramkan hati saya. Tapi inilah hati… Sementara tidak ada lagi pembicaraan-pembicaraan tentang petualangan-petualangan dan impian-impian mengabdi, cuma ada segera lulus dan mendapat gelar S2. Setelah itu, baru ‘mungkin’ saya bisa mengejar mimpi-mimpi saya yang tertunda (kalau masih ada waktu dan kesempatan). Atau hidup saya akan menjadi lurus dan monoton seperti ini…

Astagfirullah, betapa ini tidak baik. Apakah saya meragukan cinta orangtua saya? Atau bisa jadi saya meragukan kebaikan dari Allah. Ampuni saya ya Allah yang memandang semua ini dengan egoisme dan sudut pandang manusiawi yang sangat terbatas. Saya sadar, tugas saya adalah berbuat baik, dan bukankah berbakti pada orang tua adalah yang utama setelah Allah dan RasulNya? Astagfirullah, kalau saya bersikap baik dan berbakti pada orangtua niscaya Allah tidak akan memberikan pada saya, selain KEBAIKAN adanya…

Ampuni hamba ya Allah, yang masih sering menggalaukan kebaikanMu, yang masih meragukan indahnya perintah dan janjiMu,
Semoga aku lebih mencintaiMu,

Kalau berbakti pada orangtua adalah jalan menuju Allah, apa yang membuat kita harus ragu untuk membahagiakan orang tua? Terlebih lagi tidak ada orangtua yang membiarkan anaknya berjalan menuju keburukan. Kalau mencitai orangtua adalah syarat mendapat cinta Allah, apa yang membuat kita ragu?

Ya Allah, ikhlaskan aku menjalani hidup ini…yang indah…
Karena pasti buah dari keikhlasan adalah kebaikan dariMu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: