Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

“Tragedi”Puasa Arafah

on February 27, 2012

Ini cerita beberapa bulan yang lalu ketika saya dan teman-teman sedang mempersiapkan sebuah agenda besar di daerah Matesih, Karanganyar. Ceritanya waktu itu adalah hari arofah, jadi kami semua (kecuali saya waktu itu) puasa arofah, ada 4 putri dan 4 putra…
Kami berempat (putranya ketinggalan) sampai di rumah tempat dilaksanakannya acara. Awalnya semuanya baik-baik saja hingga si Ibu tuan rumah yang baik menyuguhkan teh lengkap dengan gelasnya sesuai jumlah kami. Ngiiiiiikkkkk….. disuguhi cah! Piye iki? Kami saling berpandangan satu sama lain, rasanya ingin tertawa dan entahlah apa perasaan kami saat itu. Andai kami mengatakan dari awal kalau kami sedang berpuasa… kalo saya sih biasa aja gak ada bedanya, hehe
Berkali-kali kami menolak dengan mengatakan,
“Nggih Buk…”
“ya…. Matur nuwun…”
“nggih, mengke buk…”
Rasanya tidak nyaman. Saya melihat wajah teman-teman saya kecut. Puasa arofah yang sangat berharga haruskan dibatalkan karena secangkir teh panas yang nikmat di tengah suasana yang dingin ini?
Amat sayang….. 
Saya tertawa tawa sendiri melihat tingkah teman-teman saya. Awalnya saya bertahan. Tapi si Ibu terus memaksa dan…. akhirnya saya meng-iyakan dan meneguk teh tersebut…(sembari tersenyum pada teman-teman saya yang lain, haha)
Si ibu belum juga menyerah. Akhirnya teman-teman saya kalah. Dituanglah teh kedalam gelas, dan………….. glek glek………… saya miris. Saya seakan bisa merasakan perasaan mereka. Puasa yang telah dinantikan selama setahun…. Kandas….
Tak lama kemudian, para putra datang. “Enak ya mereka gak jadi korban batalin puasa, sudah kami wakili (kecuali saya tentunya)” pikir saya….
Tapi…. Tak lama kemudian si Ibu keluar dari rumah dan……….. MEMBAWA TEH LAGI untuk teman-teman saya yang baru datang. Hahahahahaha, saya tersenyum penuh kemenangan mewakili teman-teman yang putri…
Saya (mencuri) melihat wajah mereka memerah. Bingung. Lalu tanpa pikir panjang… mereka meneguk suguhan tersebut. Melihat teh kami masih banyak, salah satu dari mereka bertanya,
“Lho… belum diminum?”
“Sudah” jawab saya
“Kog masih banyak. Jangan begitu, kita harus menghormati ibunya…” katanya. Ya memang ada benarnya juga….
Lengkap sudah tragedi puasa arofah kami semua (kecuali saya)…. Semoga Allah mengampuni…
Tapi kan kami (kecuali saya) tidak membatalkan puasa dengan semena-mena. Ada alasan yang insyallah syar’i, memuliakan tuan rumah yang memuliakan tamunya… insyallah…
Tidak hanya sampai disitu. Penyesalan kami akan tragedy puasa arofah ini masih berlanjut. Ibu tuan rumah MEMASAK MAKAN SIANG untuk kami. Mau menolak? Tidak mungkin, sudah disajikan. Astagfirullah… nikmat apa ini??
*mungkin ini adalah nikmat Allah bagi mereka yang sedang berjuang. Dan benar, setelah itu kami harus membelah hutan dan jalan… Allah memang paling baik*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: