Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

The Humble Man, Pak Sabar!

on February 19, 2012

Namanya sangat singkat, SABAR. Ya, hanya itu…. SABAR. Mungkin nama itu pulalah yang membuatnya mampu bersabar menghadapi ujian hidup yang demikian pahit. Suatu peristiwa kecelakaan kereta api yang memaksa dia kehilangan salah satu kakinya. Tapi dia mampu bersabar hingga menjadi seperti sekarang. Seorang tuna daksa yang mampu mengharumkan nama Indonesia dengan mendaki gunung Elbrus dan Kilimanjaro. Dimanakah itu? Katanya ada di suatu tempat bernama Afrika dan Rusia. Gunung yang sangat tinggi dan puncaknya bersalju. “Salju itu seperti tepung”, katanya. Baiklah, saya sekarang sudah bisa membayangkan bagaimana salju itu…

Darimana saya tahu beliau? Asean Paragames. Lagi-lagi event itu telah memberikan makna indah dalam hidup saya. Pada saat upacara pembukaan, pak Sabar menaiki podium gelora Manahan dengan tongkatnya. Sangat lincah dan kemudian menghilang. Saya mencari-cari waktu itu, tak lama kemudian, dia terbang dari podium menuju tempat obor. Ketika itu pembawa acara membacakan prestasinya. Speechless. Seseorang yang tidak sempurna mampu melakukan itu, betapa Allah adil pada hamba-hambaNya… “Saya harus belajar dari dia!” pikir saya waktu itu. Tapi muncul juga keraguan, “memang dia tinggalnya dimana? Punya fb gak ya? Blog? Atau media lain kah?” Lalu saya lupa dengan niat saya itu karena terhanyut dalam “romansa” APG.

Hingga suatu hari, adik saya Memet mengatakan, “Woalah Mbak…. Kowe pengen ketemu pak sabar? Kae lho rumahe ngarep kosku… “ dengan entengnya Memet mengatakan itu…
“Alhamdulillah…” saya bersyukur, sangat bersyukur atasa kemudahan yang diberikan oleh Allah. Beginilah nikmatnya punya banyak saudara dan teman…hehe…
“Kapan aku diantar kesana?”
“Ntar aku kabari deh.” Jawaban singkat dari Memet sedikit meruntuhkan kebahagiaan saya…

Lalu beberapa waktu berselang,

“Dik, kapankah kita ke tempat pak sabar? Tapi kalai kamu sibuk kapan aja deh gak papa.”
“Sekarang bukan aku yang sibuk, tapi bapaknya yang lagi sibuk mbangun rumah.”

………..speechless…………

Lama setelah itu… sebuah sms datang.
“Mbak, masih mau ketemu pak sabar?”
“Mauuuuu…. Kapan?”
“Jumat ba’da Jumatan. Pripun?”
“Okay. Terima kasih Memet… ”

Dan hari itupun datang….
Kami (saya, memet, reni, dan mbak Ay) meluncur ketempat pak sabar. Ternyata Benar, rumahnya hanya disamping kampus kami. Kemana saja kami tidak pernah menyadari hal ini? Mungkin benar adanya kalau mahasiswa lebih asik dengan dirinya sendiri, urusannya sendiri, hehe

Kami disambut dengan sangat BIASA. Tidak ada kesan bahwa kami adalah tamu yang hendak belajar dari dia. Kami berpikir dia akan memberikan motivasi dan bercerita tentang perjuangannya. Namun, ternyata pak sabar bukanlah seseorang yang senang bercerita tentang dirinya. Dia tidak akan bercerita kalau kami tidak bertanya. Lalu, apa yang kami lakukan disana?

Pertama-tama pak sabar memperlihatkan sepatu yang dipakainya mendaki Elbrus dan Kilimanjaro. Sepatu itu kini ada dihadapan saya berikut yang memakainya. Hanya sebelah memang karena memang pak sabar cuma punya satu kaki. Selanjutnya beliau bergerak dengan lincah ke lantai 2 mengambil laptop. Ya, setelah itu kamu melihat perjalanan pak sabar mendaki kedua gunung tertinggi tersebut dengan sesekali mendengarkan cerita tentang tempat-tempat yang tengah dilalui (tentunya setelah kai bertanya). Saya mendapat kesan, pak sabar memang orang biasa. Dia samasekali tidak menganggap dirinya sebagai pahlawan atau apa. Dia bersikap biasa bahkan bercanda layaknya orang Solo pada umumnya. Rendah hati…. Oiya, video yang kami lihat masih bersifat dokumentasi pribadi dan tidak boleh dicopy (jadi mau pamer bahwa kami adalah orang-orang terpilih yang melihat video tersebut sebelum yang lain, hehe). Rencananya pak sabar akan membuat pameran perjalanan beliau. Juga beliau ingin menyerahkan baju dan semua peralatan yang pernah digunakan pada saat mendaki kepada presiden SBY untuk dimusiumkan. Jadi, dia tidak perlu banyak berkata, tapi biarlah orang-orang langsung melihat buktinya.

Memang dia HANYA mendaki. Tapi yang dilakukannya telah mempengaruhi paradigma banyak orang, salah satunya saya.
Sebagai penutup, sebuah kalimat yang saya kutip dari Rumah Perubahan:
“Sesuatu yang kita lakukan untuk diri sendiri akan MATI bersama kita. Perubahan dan sesuatu yang kita lakukan untuk kebermanfaatan orang lain akan lebih kekal abadi.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: