Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Serial Tukang Becak: Ternyata Mereka tidak Pulang!

on February 19, 2012

Cerita tentang perjuangan para tukang becak yang saya temui di daerah Keraton Kasunanan Solo. Waktu itu saya sedang persiapan menjelang APG. Semuanya sibuk hingga larut. Pukul 1.00 dini hari (ini adalah waktu paling malam saya belum pulang ke kos, karena memang sedang bertugas) ketika salah seorang teman saya (bule dari Turkmenistan, tapi sudah seperti orang pribumi) bertanya…
“hey, kalian sudah sholat Isya?”
“astagfirullah belum. Jam berapa sekarang Serdar?”
“jam 1. Ayo saya antar.”
Lalu saya dan dua orang teman saya diantara oleh serdar ke sebuah mushola kecil disamping pendhopo tempat berkumpulnya semua volunteer APG. Mushola itu tepat disamping pintu masuk keraton Kasunanan. Musholanya sudah tutup dan tidak ada mukena diluar. Walhasil saya sholat dengan pakaian seadanya, Alhamdulillah sudah memenuhi syarat. Serdar menunggu kami dari jauh.

Diserambi mushola itu banyak tubuh bergelempangan. Saya herau kenapa yang mereka tidur disini? Diluar mushola dan dengan selimut seadanya. saya harus mencari celah diantara tubuh-tubuh ini yang memungkinkah saya sholat dengan nyaman. Alhamdulillah…

Setelah sholat akhirnya pertanyaan saya terjawab. Didepan mushola berjejer becak-becak dengan berbagai corak dan warna. Ya, ternyata mereka dalah tukang becak. Entah dimana mangkalnya, mungkin di sekitar pasar Klewer. Ternyata mereka tidak pulang. Mereka membawa bekal seadanya. di mushola inilah mereka tidur, meletakkan baju bahkan mencuci dan menjemur baju pun disini. Dimana ya keluarga mereka? Apakah mereka perantauan yang tidak punya tempat tinggal? Bagaimana ya keluarga yang sedang mereka tinggalkan? Adakah mereka dalam keadaan yang lebih baik ataukah sama saja bahkan lebih buruk? Hanya Allah yang tau…

Ternyata bukan hanya tukang becak yang tidak pulang. Ketika pulang saya melewati daerah pasar klewer. Subhanallah, mereka juga tidak pulang. Pada pedagang asongan di sekitar keraton dan pasar klewer ternyata juga tidak pulang. Mereka tidur di emperan took dengan alas seadanya dan menjaga dagangan mereka tetap bersama mereka, mendekapnya. Begini beratnya kah menjemput rejeki dari Allah? Kapan ya mereka pulang dan bertemu dengan keluarganya? Lagi-lagi saya tidak tahu…
Tapi saya yakin mereka adalah orang-orang yang gigih. Semoga Allah memudahkan rejekinya dan memberikan kesehatan serta kesabaran baginya dalam bekerja… Amin…

Selama ini mungkin kita (saya ) terlalu asik dengan kehidupan masing-masing. Selalu berkecukupan dan bisa pulang ke kasur empuk setiap malam tanpa harus memikirkan makan apa besok. Tapi pengalaman melihat kota Solo pukul 1 pagi membuka mata saya bahwa tidak semua orang diberi kemudahan yang sama. Mereka yag diberi kemudahan mempunyai kewajiban lebih besar untuk memudahkan orang lain pula…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: