Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

D.I.A.M.

on December 16, 2011

Hari ini aku belajar diam, mengamati dan lebih banyak mendengar
Aku terinspirasi sebuah perkataan,

“Belajarlah damai, maka kau akan mengetahui betapa buruknya terburu-buru. Belajarlah diam, maka kau akan menyadari kau telah terlalu banyak bicara”

Ternyata benar, ketika saya mencoba damai dalam bersikap dan diam mengamati, saya melihat betapa orang-orang ternyata banyak sekali berbicara, dari mulai canda-tawa, ejekan, hinaan, gosip, berbagi ide, dari yang menimbulkan inspirasi sampai yang membuahkan dosa. Dan itulah yang selama ini terjadi pada saya. Setiap hari entah berapa juta kosakata yang saya ucapkan. Diantara sekian itu entah hanya berapa persennya yang mendatangkan pahala bagi diri saya dan orang lain.

Ketika saya mencoba lebih berdamai dalam bersikap. Saya menyadari betapa orang-orang disekitar saya seringkali berlebihan dalam menyikapi segala hal. Terburu-buru, tidak sabar, merasa paling benar, sampai tindakan-tindakan yang tidak perlu dan jadinya lebay. Hal-hal yang bisa disikapi hanya dengan tersenyum atau terus berjalan, seringkali diimbuhi dengan makian, keluhan, dan hal-hal lain yang jauh dari menyelesaikan masalah.

Begitupun saya, pasti banyak hal yang saya lakukan secara berlebihan. Dalam berkata-kata, dalam menyikapi berita baik maupun buruk, dalam menunjukkan ketidakpuasan terhadap keadaan.

Teringat, kata teman saya…

“KIta banyak bicara karena keinginan untuk memuliakan diri sendiri. padahal kewajiban kita adalah memuliakan orang lain.”

Benar. Sebaik-baik ,manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Tugas kita adalah menjadi penyebab bagi kebahagiaan dan kemudahan orang lain. Maka, mungkin selama ini kita terlalu banyak mendholimi orang lain untuk mendengarkan perkataan kita yang tidak bermutu. ketika kita bermuka masam, maka kita pun menyakiti perasaan orang lain. Saat kita berlaku lebay, entah ada berapa orang yang sebal karenanya.Maka, bersikap biasa dan berlaku biasa diantara kebanyakan manusia mungkin benar adanya. ^^

Advertisements

One response to “D.I.A.M.

  1. L says:

    Pernah dengar istilah “Well Place Silent”? Ya, diam di tempat yang tepat. Keadilan tentu harus ditegakkan dalam segala hal. Bahkan ketika kita dihadapkan untuk memilih diam atau bicara. Karena bila kita salah pilih dan menempatkan bisa jadi kita tidak sedang menyelesaikan masalah tetapi justru menciptakan masalah.
    “Setiap kali kita bicara, bicaralah dengan niat untuk memuliakan orang,,,”
    Berarti sebaiknya kita diam bila tak mampu memuliakan orang lain? Diam bisa berarti emas tetapi justru bisa menjadi sampah. Jangan bilang sampah pun bisa dimanfaatkan lho ya…  Bila diamnya kita itu membuat orang lain atau keadaan menjadi lebih baik dan bernilai, it’s oke. Disana hati akan kian bersinar dan pribadi kita kian mempesona . Ijinkan orang lain meningkatkan nilai dirinya. Tetapi bila kita tau bahwa diamnya kita justru akan membuat keadaan menjadi semakin buruk padahal kita mampu maka bicara menjadi sebuah keharusan.
    “Berbicara adalah proses peningkatan nilai, dan sebaik-baik proses peningkatan nilai adalah yang meningkatkan nilai orang lain”
    Bila kita ditanya bahasa apa yang paling mudah? Maka jawabnya adalah bahasa “jujur”. Percaya? Harus itu –sedikit maksa- hehe… terserahlah  karena betapa orang yang tidak jujur harus mengingat-ingat setiap ketidakbenaran keputusannya. Bahkan bercandapun akan lebih bersahabat bila jujur. Ingat nama Na’im sahabat Rosulullah SAW yang paling suka bergurau dan tertawa? Melihat gelegatnya saja Rosulullah SAW sudah tersenyum. Karena kejujuran candanya terdapat makna, manfaat dan tidak menyakiti orang. Terkadang berat mengatakan sesuatu dengan jujur. Bimbang antara memilih bicara atau diam. Walau demikian itulah bahasa terindah dan termudah. Dilihat dari sisi lain. Gunung itu tampak lebih anggun bila kita menatap dari kejauhan. Tapi akan berbeda bila kita melihat dari dekat. Terjal, berbatu dan tak teratur. Menapakinya terasa begitu berat. Namun apa yang akan kita pandang dan rasakan ketika kita sampai di puncak? (jelas g’ tau kalau blm ke puncak)  Hamparan cakrawala kejujuran yang kita rasakan terjal, berbatu dan berliku tadi tampak mempesona dan mengagumkan. Memang untuk melewati ujian tadi dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Artinya kebenaran yang kita lakukan, walau berat akan menampakkan kebaikannya ketika kita menyadari bahwa kita melihat dari sudut pandang dan tempat yang tepat. Seberapa tinggi iman kita, disanalah parameternya. Bila bicaranya kita membuat orang lain lebih merasa damai, terhormat dan percaya diri, bicaralah. Karena saat itu Allah sedang menitipkan serpihan kebaikan dilisan kita. Bila kita tulus, insya Allah Allah akan memuliakan kita karena itu memang tugas Nya…
    Allah menciptakan kita dengan satu mulut dan dua telinga agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mendengar -baca diam- mendorong kita untuk berpikir banyak dan merasakan lebih dalam. Tidak mungkin kita meng cancel perkataan yang terlanjur ter upload. Itu sebabnya orang bilang banyak bicara itu banyak penyesalan. Mungkin akan lebih menyenangkan membuat orang lain merasa lebih dihargai dengan diamnya kita dan sesekali menganggukkan kepala pada saat orang lain bercerita kepada kita. Dengan begitu keadaan akan mudah kita perbaiki tanpa merasa menggurui bahkan membenarkan tanpa menyalahkan.
    “Diam yang paling baik adalah diam yang menunjukkan hormat” 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: