Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

BAHASA ADALAH PENENTU

on December 16, 2011

Berikut ini bahasa-bahasa yang berefek negative ataupun positif pada siri sendiri maupun orang lain.

Suatu sore,

“Aslmkm,tman2 direksi. Ksepakatan tgl 17 des’11, itu agenda pleno bukankah ksepakatan RHT yg kta lakukan dlu. Dan kalian sepakat, bkan? Dan skrg, silahkan yg brhlgn hadir sms/confirm ke sya dg alasan jelas”

Apa yang muncul dalam benak Anda? Sebuah pernyataan yang emosi atau bertanya biasa? Bandingkan dengan yang ini..

“Aslmkm. Tman2 direksi, sesuai kesepakatn kita dulu bhw pleno akn dilaksanakn tggl 17 des’11. Mka sy memastian lg kesanggupan tman2 utk menyampaikn LPJ pd tggl tsb. Bisa kan? Bls ya”

Bagaiman dengan aksen yang kedua? Sms mana yang akan anda balas terlebih dahulu?

Lalu, cara kita memulai komunikasi juga mempengaruhi kualitas komunikasi selanjtnya sampai akhir, misalnya dengan kesal Anda mendatangi teman Anda,

“eh, kok kamu gitu sih, kamu itu salah, seharusnya kamu bla bla bla…..”

Kalau Anda diperlakukan seperti itu, bagaimana reaksi Anda?
Kalau suatu saat Anda merasakan suatu keputusan atau sikap yang aneh dengan rekan Anda, mulailah dengan sesuatu yang santai dan menghargai rekan Anda dengn penghargaan yang setinggi-tingginya, maka Anda akan mencapai tujuan ( insyaAllah ).

Mulailah dengan..
“Aku dengar, kamu begini ya…………bla bla bla……….. kenapa
begitu?”

Atau,

“oiya, kenapa sih kamu ngambil keputusan ini?”
“eh, sms ini maksudnya gimana sih?”

Kalau Anda sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan maka syukur Alhamdulillah, tapi kalau kita belum puas, maka sampaikanlah apa yang ingin Anda sampaikan dengan santun…
“mmm….menurut aku, kayaknya lebih baik gini deh…. Bla bla bla…. Gimana menurut kamu?”
“o….aku nangkepnya gini lho…. Bla bla bla…. Mungkin bahasanya perlu diedit dikit…”

Yang pasti jangan memulai dengan menghakimi orang lain. Bisa
jadi kita yang belum paham dengan apa-apa yang dilakukan orang lain atau belum tahu tujuan sikap orang lain. Maka jadilah orang yang proaktif bukan hanya reaktif.

Jangan pula memulai sesuatu dengan emosi. Semua yang dimulai dengan emosi akan berakhir dengan rasa malu. Bayangkan saya kita sudah memaki-maki orang lain dan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain dan ternyata kita lah yang salah dalam memahami kondisi, alangkah malunya kita… menggebu-gebu diawal dan kalah jatuh di akhir dengan telak. Kalau sudah seperti itu silakan dari cara terbaik untuk meminta maaf pada rekan Anda ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: