Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Reni Winnie

on September 25, 2011

Ini bukan sodaranya Winnie the pooh (walo aga mirip sih, hehe, piss). Ini adalah kisah tentang sahabat saya (semoga dia juga menganggap saya sahabatnya). Entah dari mana kisah ini berawal. Saya sendiri lupa persisnya bagaimana pertemuan saya dengan reni, tapi kata reni dulu saya itu super jutek pas kenalan sama dia. Hanya menyebutkan nama dan berpaling. Padahal seingat saya, dulu itu dia yang jutek banget. Saya sudah tersenyum tapi dia sibuk sendiri mencari temannya. Entah siapa yang benar, mungkin ada bagian memori kami yang tertukar haha… siapa yang benar? Itu tidak penting lagi sekarang, karena kami sudah menjalani kehidupan yang berbeda.
Friendship is born at that moment when one person says to another, “what? You too? I thought I was the only one”. Ya dari situlah persahabatan kami dimulai. Kami memandang banyak hal secara sama mulai dari persahabatan, hidup, sikap, sampai pandangan kami tentang cinta. Saat saya galau karena jatuh cinta pun dia juga merasakannya hehe… mungkin sudha tercipta frekuensi yang sama.
Reni adalah orang yang sangat sabar dan pengertian dengan kondisi dan sifat saya yang teledor dan pelupa. Dengan sabar dia mengingatkan dan menjaga barang-barang saya. Mungkin dengan alasan itulah Allah mempertemukan kami dan mengikatkan hati kami. Kami juga lahir dan dewasa di lingkungan yang sama, pramuka. Maka secara langsung maupun tidak apa-apa yang kami dapat di pramuka mempengaruhi sikap kami. Selanjutnya, kami juga punya hobi yang sama, jalan-jalan dan makan-makan. Untuk urusan makan-makan ibi tergantung situasi dan kondisi kantong. Pernah suatu ketika kami ingin makan ditempat yang ‘tampaknya’ mahal, kami pun harus menunggu uang PKM cair, dan benar sekali harganya memang mahal. Kalau lagi kantong kempes, makan nasi sayir seharga 1500 pun tak masalah . Untuk urusan jalan-jalan, petualangan kami sampai pantai Nampu membawa cerita tersendiri.
Saat itu kami tiba di rumah Ambon menjelang magrib. Karena reni harus pulang ke Klaten keesokan harinya, kami pun memutuskan pulang dari Wuryantoro-Wonogiri sekitar pukul set.7 pada kondisi hujan dan gelap. Sebelum berangkat kami dibekali cerita-cerita mistis tentang jalan-jalan yang akan kami lewati menuju Solo. Dengan sangat khawatir, kami pun menguatkan hati dan berhasil sampai di Solo pukul 09.00 dengan selamat. Maklum saja kami berjalan 20-30 km/jam saja.
Yang terpenting dari itu semua adalah dia mau menerima saya apa adanya dan mau mengingatkan saya saat saya salah dan banyak masalah. Dia juga mampu mengarahkan saya untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Begitulah seharusnya sahabat. Ya Allah, rahmatilah hidup kami dan pertemukanlah kami di JannahMu, semoga kami termasuk orang-orang yang bertemu dan berpisah karenaMu 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: