Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Bukan Sekedar Upacara

on September 19, 2011

Tidak terasa sudah tiga tahun lamanya saya meninggalkan rutinitas setap hari senin, upacara bendera. Sekarang saya seakan menjalani rutinitas tersebut tapi di posisi yang berbeda. Dulu saya berbaris di depan tiang bendera, sekarang saya berbaris di belakangnya, sebagai (calon) guru.

Pagi ini semua warga SMA 1 Solo melakukan upacara bendera. Saya ikut berbaris dan mengikuti jalannya upacara dengan berusaha hikmat karena saya sekarang dilihat banyak murid sehingga harus bisa menjaga sikap. Saya berbaris dan mengikuti aba-aba persis yang saya lakukan beberapa tahun yang lalu.

Upacara bendera memang bukan sesuatu yang istimewa bagi kebanyakan siswa, hanya sebagai rutinitas yang mengharuskan bangun pagi pada hari senin, berpanas-panasan di lapangan, dan hormat pada bendera. Jauh sebelum hari ini saya selalu merasakan sesuatu yang berbeda saat upacara bendera, terutama saat bendera dikerek menuju tempat tertinggi…
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku hiduplah negeri
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya
Untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia raya.

Sebuah perasaan yang masih menyarang dalam hati saya sampai saat ini. Ironi perjuangan para pahlawan dengan sikap kita sekarang. Naiknya bendera itu dahulu dibarengi dengan tetesan daraj dan kucuran keringat, sementara kita hanya bisa menghargai dengan hormat sekenanya saja. Sungguh kasian para pahlawan kita. Saya langsung terbayang dengan keadaan Indonesia, saya malas membicarakannya. Lalu, rangkaian akan dilanjutkan dengan mengheningkan cipta, sebuah sesi yang diciptakan untuk sama-sama mendoakan para pahlawan kita. Namun, lagi-lagi seberapa khusyukkah kita meminta? Seberapa dalamkah kita bersungguh-sungguh berterima kasih kepada pahlawan dan kemerdekaan ini, meski hanya 3 menit 2 minggu sekali… lagi-lagi ironis.

Apakah kita hanya akan bisa melakukan rutinitas ini untuk menghormati para pahlawan. Bukan, mereka tidak ingin diperingati, mereka hanya kita kemerdekaan ini dilanjutkan agar mereka tak menyesal mati muda atau meninggalkan yatim dan janda. Saya akan menjadi guru, dan saya akan memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. Biarlah para pemimpin yang ada sekarang ini bobrok akhlaknya, mereka pun akan mati meninggalkan nama. Masa depan Indonesia masih suci adanya. Mereka kini sedang duduk di bangku-bangku sekolah, atau mengkaji kitab-kitab di madrasah atau mungkin sedang bingung memikirkan apa yang akan dimasaknya esok hari.

Begitupun juga bendera merah-putih, ia tidak ingin hanya dikibarkan untuk diturunkan lagi. Dia tidak butuh dihormati dihari-hari besar kebangsaan. Lebih dari itu, dia menginginkan tejaga harga diri dan martabatnya. Dia ingin berkibar disenatero dunia, bukan untuk mejajah namun untuk menunjukkan pada dunia inilah bangsa besar yang dibangun atasa perjuangan bukan pemberian. Inilah bangsa yang tumbuh bersama keringat, darah dan air mata, bukan suapan dan belaian lembut penjajah berwajah manis. Dan itu adalah tugas kita. Bukan harus dengan menjadi pejuang dan berperang, namun dengan apapun yang bisa kita lakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: