Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

(Kehilangan) Ideologi

on September 18, 2011

Apalah artinya ideologi? Sebuah pertanyaan dari seorang teman. Ideologi itu hanya menyebabkan perpecahan hanya karena berbeda pandangan. Toh tujuan akhir yang hendak dicapai itu sama, kenapa harus saling bersaing. Saya jadi terusik dengan pernyataan ini, apa pentingnya ideologi?

Hm, mari kita mulai.
Pertama saya ingin bicara mengenai agama. Ya, ideologi dapat dikatan sebagaimana agama. Setipa manusia mempunyai kesempatan untuk memilih beragama atau tidak. Mereka yang sudah memeluk sebuah agama akan dengan sangat serius menjalankan ajaran agamanya. Di dunia ada banyak agama yang sama-sama menyembah Tuhan, namun cara yang ditempuh berbeda. Mereka beribadah dengan cara yang berbeda sesuai dengan ajaran agamanya. Masuklah kedalam agamumu secara kaffah. Yah, dapat dianalogikan seperti ini ketika seseorang tidak menjalankan ideologinya atau mencampur ideologinya dengan idoelogi yang lain maka nilai-nilai yang terkandung dalam ajarannya akan rusak. Walaupun semua mempunyai tujuan yang sama yakni menyembah Tuhan, namun pemahaman dan penggambaran mengenai Tuhan itu sendiri masing-masing berbeda sehingga melahirkan cara yang berbeda pula. Lalu bagaimana untuk menyatukan itu semua? Tidak bisa. Ideologi adalah sebuah prinsip yang hendaknya dipegang teguh sampai mati. Yang bisa dilakukan hanyalah saling menghargai prinsip atau ideologi masing-masing.

Lalu, bukankah kalau semua dapat bekerjasama tujuan itu dapat lebih cepat dicapai? Menurut saya tidak. Dengan pandangan dan falsafah gerak masing-masing, penganut ideologi tidak bisa disatukan begitu saja. Akan ada nilai-nilai yang hilang atau tumpang tindih, serobot sana sini. Kecualio kalau ada kepentingan yang sama. Saya tidak menyamakan kepenringan dan tujuan dalam hal ini karena memang kedunya berbeda. Kalau penganut ideologi mempunyai kepentingan yang sama maka mereka mungkin akan bisa bekerjasama. Tapi bukan untuk melebur.
Ideologi adalah nafas gerak. Ia mempunyai standar masing-masing yang telah dirumuskan oleh pemikir-pemikirnya jauh-jauh hari. Setiap ideologi sudah mempunyai standar operasioanal dan langkah gerak.

Mengenai persaingan, itu adlaah sesuatu yang indah bagi saya. Dengan adanya persaingan manusia akan senantiasa berusaha memperbaikimkualitas diri dan kerjanya. Yang terepenting adalah jangan bermain kotor. Inilah yang menyebabkan buruknya ideologi karena orang-orang didalamnya yang tdiak konsisten atau istiqomah.

Bagaimana bila bergerak tanpa ideologi atau kehilangan ideologi? Yang pertama, arah gerak yang tidak jelas. Misalnya saja dalam kehidupan kampus, ketika pengurus lembaga eksekutif berkurang kepeduliaanya terhadap pendidikan politik mahasiswa alih-alih mencomot ruang gerak lembaga lain yang lebih dekat dengan mahasiswa untuk bisa mendapatkan massa sebanyak-banyaknya. Bagi saya itu adalah wujud kebingungan dan ketidaktanggapan mereka terhadap perkembangan jaman dan tuntutan masyarakat. Bukannya memikirkan bagaimana bisa menumbuhkan keasadaran mereka sendiri namun malah mencari jalan pintas. Ini bukan hanya merugikan bagi idelisme lembaga namun juga bisa merusak persaingan yang sebagaimana mestinya. Meski yang diluar hanya bisa memendam semuanya dalam hati, disatu sisi mereka (yang melaksanakan) akan merasa menjadi yang paling benar dan menjadi pihak yang tersakiti dengan tanggapan semacam itu. Bagaimanapun semua pihak harus mampu bersikap dewasa, menyadari kesalahan masing-masing dan melapangkan dada untuk saling memaafkan. Bukan berarti pihak yang lain sepenuhnya benar, justru karena ada ayng tidak sempurna sehingga peluang tersebut diambil oleh yang lain sampai terjadi hal-hal seperti ini. Tapi seandainya ada komunikasi yang baik hal ini tidak akan terjadi. Mereka dapat bekerjasama karean notabene mempunyai kepentingan yang sama.

Karena perbedaan itu fitrah dan indah. Dengan adanya perbedaan kita jadi bisa menjangkau semua lapisan, semua minat, dan keinginan. Memang sudah sewajarnya perbedaan disikapi secara tepat. Kuncinya adalah menghargai dan konsisten dengan ruang gerak masing-masing. Kalau ada yang bertentangan bersainglah dengan ksatria dan cara yang baik. Tapi itu semua kembali kepada masing-masing orang. Bagi yang suka dengan pluralisme dan mendambakan sebuah peleburan itu terserah masing-masing orang sesuai tingkat kepahaman dan kepatuhannya dalam menjalankan ideologi tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: