Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Mengunjungi Sahabat Tercinta

on September 8, 2011

Teringat saat itu saya sangat bersedih mendengar bahwa dia diterima di universitas terbaik di Indonesia, Universitas Indonesia. tidak terasa kesedihan saya melelehkan air mata. sungguh di satu sisi saya bahagia sahabat saya bisa mewujudkan mimpinya kuliah di tempat yang “lebih bermutu” dimana banyak kesempatan dan peluang untuk melakukan banyak hal. di sisi lain saya merasakan kecemburuan luar biasa, kenapa bukan saya yang mendapatkannya. jawabnya singkat saja karena saya tidak prnah mencoba, saya tidak pernah bergerak.
sudah 2 tahun kami berpisah. civita dengan kehidupan barunya sebagai mahasiswa daerah di kampus terbaik di Indonesia sedangkan saya di kampus negeri di pinggir kota kecil bernama UNS. sempat saya merasa berkecil hati. seandainya saya bisa berkuliah di UI mungkin saya akan jauh lebih baik dair sekarang. namun siapa yang bisa menjamin kehidupan manusia. seandainya…seandainya…dan seandainya hanya akan membuat kita tidak pernah maju padahal didepan kita da banyak peluang dan kesempatan. begitulah saya berusaha menguatkan diri saya untuk bisa menjadi seseorang dikampus kecil ini agar saya tidak menyesal…
kembali ke civita. dua tahun sudah dia menjalani kehidupan sebagai mahsiswa UI. kami hanya bertemu 2 kali ketika dia sengaja mengunjungi kami di kampus dan ketika secara tidak sengaja saya bertemu dengannya saat dia mengantar adiknya test SNMPTN di UNS. rasanya sangat bertolak belakang. dia sudah mengunjungi eropa, tempat yang saya dambakan. dia juga sudah ke singapura (tempat yang lain saya kurang tahu…haha). kuncinya hanya satu, dia mau berusaha keras dan optimis. sedangkan saya merasa berkecil hati, apalah saya mahasiswa kampus biasa denga keahlian yang biasa dan keuangan yang pas-pasan. tapi civita menepis semua itu, dia bermimpi dan benar-benar berkomitmen. apapun dia lakukan (selama tidak haram tentunya). dia mau melakukan hal-hal berat dan mengasah ketajaman berpikirnya… inilah yang kurang saya terapkan dalam diri saya. dalam kesempatan ke eropa itu saya pun tahu infonya, tapi saya sudah pesimis terlebih dahulu. sementara di jakarta sana civita berjuang mencari sponsor kesana kemari untuk bisa berangkar. betapa dangkalnya pikiran saya saat itu sehingga kesempatan yang sudah di depan mata lepas begitu saja bahkan saya belum sempat mencoba.
mempunyai teman seperti dia membuat asaya bersyukur walau kami hanya sebentar bersama tapi dia sudah bisa menjadi bagian dalam hati saya.
lama tak ada kabar saya beranikah diri untuk mengunjungi dia dirumahnya. dengan modal nekat dan semangat kami berangkat. walau nyasar-nyasar akhirnya niat baik pun terbalas…
disana dia membagi pengalamannya selama di eropa (lebih tepatnya di Jerman, di kota kecil yang sepi banget). kehidupan masyarakatnya dan banyak cerita yang lain.
lalu, dia mengucapkan selamat atas prestasi saya beberapa waktu yang lalu. itu adalah sebuah prrestasi yang sangat biasa dan tidak pantas dibanggakan. tapi dia menganggapnya sebuah PRESTASI. mungkin memang inilah jalan hidup masing-masing. Allah memberi kebahagiaan dan pretasi berdasarkan usahanya dan Dia tidak pernah mendholimi hambaNya….
sahabatku Civita mungkin hanya sekelebat lewat dalam perjalan hidup ini, tapi sungguh saya merasakan sebuah ikatan entah apa itu. saya bersykuru perbah berteman dengan dia, sesingkat apapun dan bagaimanapun dia menganggap diri saya. terima kasih Ya Allah… semoga saya bisa terus belajar..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: