Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Setelah 6 Tahun

on September 1, 2011

Ya, tidak terasa sudah 6 tahun saya meninggalkan bangku SMP. Masa-masa yang boleh dikata jahiliyah hehe. Masa eksplorasi diri. Saat eksistensi diri ini ingin disayai. Penasaran dengan hal-hal baru dan ingin mengenal banyak orang. Jadilah saya boleh dikatakan super aktif. Gebrakan pertama dimulai saat aka nada upacara penutupan MOS, dengan sangat PD saya mengajukan diri menjadi komandan upacara. Hal tergila yang dulu saya anggap biasa. Kalau sekarang saya dihadapkan pada keadaan itu, saya akan menunggu sampai benar-benar tidak ada anak laki-laki yang bisa.
Kenakalan berlanjut dengan hobi mencoba hal-hal baru dan ngluyur kemana-mana sampai beberapa kali dimarahi karena tidak meminta ijin sebelumnya (kalau minta ijin pasti tidak boleh, hehe). Tapi saya selalu punya cara untuk menghilangkan kekecewaan orang tua karena kenekatan saya. Kuncinya dalah prestasi. Jadinya walaupun saya ingin begini dan begitu selama saya bertanggungjawab dengan amanah orang tua dan berprestasi, semuanya lancar. Selain itu organisasi adalah pilihan saya untuk aktualisasi diri, mengenal banyak orang dan menantang diri saya sendiri. Melalui organisasi di OSIS, Pramuka, dan Koperasi saya mempunyai teman dan keluarga baru, pengalaman yang tidak dapat dibeli sampai pengalaman menyampaikan pidato diacara perpisahan kelas 3. Hobi jalan-jalan dan berorganisasi sampai saat ini masih ada. Mungkin orangtua saya sampai capek mengingatkan saya hehe.
Kehidupan 6 tahun yang lalu bersama teman-teman yang lucu dan imut baru-baru ini dapat saya rasakan kembali. Nikmatnya berkumpul dengan kawan-kawan yang dulu bermain dan belajar bersama. Sebuah acara buka bersama yang dilaksanakan pada 28 ramadhan tahun ini sangat berkesan. Mulai dari persiapan oleh sedikit orang saja, nyebar undangan, belanja ke pasar sampai masak dan ngulek sambel sendiri. Ide buber muncul dalam sebuah janji ketemuan dnegan beberapa teman di SMA 1 Sukodono. Saat itu ada Andi, Wawan, Martin, Puji, Trimbil, Joko, Dwi, Mbahe, dan Dinar juga. Ada ide halal bi halal, buka bersama, sampai piknik bareng. Akhirnya kami sepakat mengadakan buber dirumah Andi. Acara nyebar undangan pun berlangsung dengan cukup lancar walau penuh perjuangan di dunia nyata maupun di dunia maya.
Hari H pun datang. Janjian belanja dan masak bersama sedikit terancam karena satu per satu mulai mengundurkan diri untuk bisa membantu. Dengan sisa orang yang ada dan semangat 45 mask-masak pun berlangsung. Ketika sedang asyik di dapur datanglah sesosok wanita muda. Seharusnya sih dia teman SMP saya, pikir saya, tapi saya lupa namanya, benar-benar lupa. Sembunyi-sembunyi saya menanyakan nama gadis itu ke Andi. Ya, saya ingat (setelah diberitahu) namanya Nopi Nur Parida. Payah, baru ketemu satu orang saya sudah lupa bagaimana nanti sore kalau bertemu banya orang hehe. Acara masak-masak berlangsung lancar, tibalah saat persiapan menyambut para tamu agung teman-teman SMP.
Satu per satu mereka datang dengan senyum malu-malu. Wajahnya masih lekat dibenak saat mereka masih lucu dan imut berseragam putih biru. Tapi kini raut muka dan mimic mereka lebih dewasa. Penampilan mereka juga sudah berbeda, kumatlah penyakit lupa lupa ingat saya, maksudnya banyak lupanya. Untuk teman-teman yang putri saya sukses mengingat semuanya, untuk teman-teman yang putra saya menyerah…hehe. Ada beberapa teman yang sudah menikah dan punya anak (saya kapan ya?) ada juga yang sudah jadi polisi dan merantau keluar Jawa. Merantau, satu hal yang sangat ingin saya lakukan mengapa?
Merantau adalah kata-kata Imam Syafi’I yang begitu mengendap dalam pikiran saya hingga sekarang sejak pertama kali membuka Novel Negeri 5 Menara (walau belum selesai say abaca hingga sekarang,hehe). Orang yang pintar dan cerdas tidak akan berdiam diri di negaranya. Merantaulah ke dunia luar, akan kita temui pengganti kawan dan keluarga… Kayu gaharu akan sama dengan kayu yang lain bila terus berada dalam hutan, singa tidak akan mendapatkan mangsa kalau hanya berdiam diri. Saya lupa kata-katanya, tapi sungguh saya masih tersihir kata-kata itu. Saya harus merantau, saya harus melihat dunia luar memahami karunia Allah yang terhampar luar seluas bola dunia. Saat ini teman-teman saya ada yang sedang di Malaysia, Jepang, Korea, bahkan ditempat yang sangat jauh di Arab Saudi, bumi para nabi. Kemana aku akan melangkah setelah ini? Insyaallah saya sudah mempunyai rencana, tinggal usaha keras dan doa yang super serius.
Setelah 6 tahun berlalu, bertemu dengan teman-teman adalah hal yang sangat indah dan menyenangkan. Ibarat menyambung tali persaudaraan yang renggang. Inilah angin terus saya rasakan entah dalam berapa tahun kedepan. Mungkin 10 atau 15 tahun lagi, saat kami sudah mempunyai keluarga kecil masing-masing, mempunyai karier masing-masing, dan saling bercerita tentang mimpi-mimpi yang dulu pernah terlintas dalam benak kami. Ini baru 6 tahun, kalau Allah mengijinkan persaudaraan ini akan terus berlangsung sampai kita tak mampu lagi saling menyapa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: