Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

ONE STEP TO JAPAN #1

on August 21, 2011

Jepang. Salah satu tempat yang akan menjadi tujuan untuk belajar banyak hal. Banyak orang memipikannya, begitupun saya. Jalan yang ditempuh pun bermacam-macam mulai dari beasiswa, jadi TKI, sampai menabung untuk bisa liburan. Semuanya asal bisa menginjakkan kaki di tanah sakura. Sebagai manusia sehat dan berakal saya pun memanfaatkan segala cara untuk bisa kesana. Sebagai mahasiswa yang ingin maju, cie, saya ingin memajukan diri saya dengan menimba ilmu di negeri matahari terbit (tentunya bukan untuk menyembah matahari,hehe). Man jadda wajada, kesempatan itu datang.
Berbekal informasi dari mas heru edi kurniawan (kakak tingkat dan teman seperjuangan) yang mengabari adanya pendampingan beasiswa ke Jepang. Waktu itu H-3 jam saya mendaftar dengan berbekal nekat. Ternyata banyak kolom yang harus diisi mengenai prestasi, kegiatan seminar, dan lain-lain. Karena saya tidak membawa semua berkas akhirnya saya tulis semua yang saya ingat. Bermodal basmalah saya kirim ke email yang diinfokan oleh mas heru. Semoag bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi saya, bukan untuk saya sendiri, tapi untuk murid-murid saya kelak, untuk almamater, untuk orangtua saya, dan untuk bangsa ini,aamin.
Singkat cerita saya berhasil lolos seleksi dan berhak mendapatkan pendampingan ke Jepang. Disana ada banyak mahasiswa dari seluruh Indonesia yang berhasil lolos umumnya sudah lulus atau proses skripsi, sedangkan saya masih duduk di semester 7. Melihat mereka yang lolos saya jadi ternganga sendiri. Perjuangan mereka untuk bisa ke Jepang sangat luar biasa, ada yang sudah mendaftra dua kali namun gagal terus, ada yang sudah belajar bahasa jepang pula. Sedangkan saya hanya bermodal nekat. Hal ini menyadarkan saya bahwa apa-apa yang saya lakukan selama ini belum ada apa-apanya sehingga saya sering gagal. Inilah cara Allah mendidika saya, begitu pikir saya. Diantara mereka juga sudah berpengalaman ke luar negeri, baik ke belanda, US, atau wilayah Asia. Sedangkan saya passport saja tidak punya. Subhanallah, diantara mereka saya merasa belum ada apa-apanya.
Kegiatan pendampingan dilakukan via milis dan pertemuan darat. Untuk bisa selalu up to date, saya membeli modem yang sebelumnya tidak sempat terpikirkan. Saya pikir, inilah salah satu totalitas saya dalam berusaha. Selain itu diadakan juga pertemuan darat di kampus UNDIP semarang. Sambil menyelam minum air. Sembari mengikuti pembekalan saya juga mewujudkan mimpi saja menginjakkan kaki di kampus-kampus terbaik di Indonesia, UNDIP salah satunya.
Pematri kala itu adalah Pak Firman, mahasiswa S3 di Todai (University of Tokyo) sebuah universitas terbaik di Jepang. Angan saya langsung melayang-layang ketika beliau menceritakan semua tentang Jepang dan belajar disana. Saya semakin matap dan siap berjuang. Pesan yang disampaikan oleh pak firman adalah “jadilah mandiri untuk menolong dirimu sendiri. Mencari sebelum bertanya, berusaha sebelum meminta.” Sebuah kalimat yang cukup menohok bagi saya, penuh semangat dan berkarakter. Karena memang sebuha cita-cita yang tinggi dimanapun itu membutuhkan usaha keras dan mental baja dan Insyaallah saya siap, hehe… perjuangan ini baru dimulai, tahap selanjutnya adalah mencari sensei (professor), membuat proposal, CV, surat lamaran, dan menguatkan azzam. Allahu akbar!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: