Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

TIMNAS YANG UTAMA

on August 18, 2011

Kongres luar biasa PSSI akhirnya mampu menetapkan ketua umum PSSI yang baru, Djohar Arifin Husein. Dia adalah tokoh yang telah makan asam garam di dunia persepakbolaan Indonesia. Pernah aktif sebagai pemain di PSMS Medan, pria ini mencapai puncak kariernya ketika menjadi Sekjen KONI Pusat.
Terpilihnya Djohar sebagai ketum PSSI tidak diwarnai kericuhan seperti yang terjadi pada kongres 20 Mei silam. Kongres yang berlangsung di Solo ini berjalan tertib meski tetap dana dua kubu yang bersaing. Kubu-kubu yang bersaing terlihat pada saat pemilihan ketua dan wakil ketua. Ketua dan wakil ketua terpilih sama-sama diusung oleh kelompok 78, yang menggagalkan kongres 20 Mei. Pada kongres yang berlangsung 9 Juli lalu kelompok 78 mampu menahan diri dan tidak bertindak radikal.
Meski terpilih secara damai kongres ini menyisakan dugaan. Djohar yang didukung oleh kubu kelompok 78 disinyalir akan mengedepankan kepentingan kelompoknya. Dugaan ini menguat seiring dengan tidak adanya statement dari Djohar bahwa dia akan merangkul semua pihak, melainkan baru berbicara mengenai dirinya dan kelompok yang mendukungnya.
Selain itu, publik juga mengkhawatirkan terjadinya persaingan dua kubu pascakongres. Ketum PSSI yang diusung oleh kelompok 78 harus mampu membuktikan dirinya mampu berprestasi. Bila tidak, PSSI akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Kondisi ini tentunya dapat dimanfaatkan oleh kelompok lain untuk mengusik kepemimpinan ketum PSSI.
Terlepas dari dugaan dan kekhawatiran publik tersebut, tugas berat telah menanti ketum PSSI yang baru. Prestasi timnas yang masih seret merupakan PR yang harus segera diselesaikan. Berjuta harapan digantungkan kepada PSSI yang baru untuk timnas yang berprestasi dan lebih baik. Berbagai kompetisi sudah di depan mata. PSSI tidak mempunyai waktu lama untuk bersiap sedangkan masyarakat semakin tidak sabar menunggu datangnya prestasi. Sebuah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh ketum PSSI yang baru.
Timnas yang Utama
Keberadaan timnas sangat penting bagi segenap rakyat Indonesia. Dapat dikatakan bahwa timnas merupakan alat pemersatu bangsa. Ketika timnas berlaga, segenap rakyat Indonesia bersiap mendukung dan memerahkan negeri ini. Sebuah semangat gagah berani untuk mendukung timnas tercinta. Ketika Indonesia raya dikumandangkan seakan negeri ini hening tersihir oleh patriotism yang makin memuncak. Timnas merupakan kebanggan sekaligus harapan.
Sayangnya seringkali semangat yang menggebu-gebu menjelang pertandingan berakhir dengan tangis. Lagi dan lagi timnas dibabat oleh lawan. Sebagai contoh dalam kejuaraan AFF tahun lalu, Indonesia begitu perkasa melangkah ke final. Namun, di final harapan yang tinggal selangkah itu pupus. Disaat itu publik tidak menyalahkan para pemain atau pelatih tetapi menyalahkan Nurdin Halid, ketua PSSI kala itu.
Hal tersebut menunjukkan tingginya harapan masyarakat terhadap PSSI terlebih lagi kepada ketua umumnya. Maka dari itu, sudah selayaknya ketua umum PSSI mampu memimpin secara baik untuk kemajuan PSSI dan timnas Indonesia. Dia harus berpikir untuk bangsa, bukan lagi kelompok tertentu atau kepentingan tertentu. Konsentrasi PSSI harus menitikberatkan pada bagaimana membawa timnas berpretasi.
Kelompok 78 yang berjaya dalam kongres harus mampu merangkul semua pihak. Kerja mareka adalah kerja untuk Indonesia maka kepentingan kelompok harus dilupakan dan dibuang jauh-jauh. Untuk menjaga stabilisme PSSI, kepengurusan yang baru harus mampu mengajak semua pihak bekerjasama.
Begitupun dengan kubu yang kalah harus mampu seiring sejalan dengan kepengurusan PSSI. Meskipun tidak menduduki jabatan tertinggi di PSSI, kubu yang kalah harus mau bekerjasama dengan kepengurusan PSSI. Tidak perlu berusaha mencari kelemahan atau menjatuhkan PSSI yang sekarang tetapi mendukung dan ikut bersama-sama membangun PSSI.
Apapun yang terjadi di PSSI, masyarakat hanya menginginkan satu hal, prestasi timnas. Sudah sewajarnya juga PSSI fokus pada satu hal, prestasi. Pembinaan timnas harus terus ditingkatkan begitupun pembinaan di dalam tubuh PSSI sendiri. Kepentingan pribadi ataupun kelompok harus dilebur menjadi kepentingan bangsa. Agar PSSI dapat dijunjung tinggi setinggi timnas Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: