Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Sebuah Loyalitas

on August 18, 2011

Upaya pengejaran sebuah beasiswa ke Amerika telah membawa saya meninggalkan satu amanah penting di ESA. Saya meninggalkan tugas saya sebagai seksi acara disana, padahal saya yang menyusun semua rencananya. Setelah berjuang mengurus beasiswa hingga pukul 22.00 malam sebelumnya, saya harus menyusul ke lokasi kegiatan upgrading ESA di Tawangmangu, sekitar 50 kilometer dari rumah saya. Saya yakin pasti tidak akan diijinkan untuk kesana karena fisik saya yang kekelahan dan medan yang naik turub ciri khas daerah pegunungan.
Pagi-pagi saya bersiap berangkat dengan pakaian rumahan seakan mau berangkat ke Solo. Saya biasanya mampir ke kost dulu jadi berangkat dari rumah dengan kostum seadanya. Tapi pagi itu saya tidak ke hanya ke Solo melainkan menyusul teman-teman di ESA terlebih dulu. Saya minta ijin untuk ikut konferensi tahunan LSP dimana saya harus datang (padahal sebenarnya saya datang atau tidak ya sama saja. Dengan semangat 45 layaknya pembalap saya meluncur ke Tawangmangu. Sayangnya saya tidak tahu rute dari rumah saya ke Tawangmangu. Dengan modal hape dan pulsa seadanya saya menghubungi teman saya, raditya. “dit, jalan ke Tawangmangu dari Sragen kemana? “. “ kamu tahu rumah irfan?”, “iya…”, “ nah, dari situ kamu ikut jalan utama aja ntar tiap ada belokan kamu ambil kiri”. Hanya dengan modal belok kiri saya nekat berangkat ke Tawangmangu. Alhamdulillah saya sampai di lokasi, ternyata saya sudah ditunggu-tunggu oleh adik-adik dan teman-teman saya, khususnya seksi acara. Tanpa tahu banyak hal dan apa saja yang sudah terjadi sejak kemarin saya hanya membantu apa-apa yang bisa saya bantu. Dengan menyembunyikan semua kelelahan saya ikut naik bukit dan menggila bersama adik-adik sampai kegiatan berakhir.
Usai kegiatan di Tawangmangu, saya meluncur ke Solo yang berjarak sekitar 50 km untuk ikut konferensi LSP. Masih dengan pakaian tidak pantas ke kampus saya bulatkan tekad untuk tidak berbohong pada orang tua saya. Saya harus benar-benar datang ke konferensi LSP. Sebentar di LSP saya langsung bergegas pulang lagi menempuh perjalanan 40 km sampai rumah. Dan misi saya hari itu berhasil, orang tua saya tidak mengetahui apa yang sudah saya perbuat selama sehari, berapa jarak yang sudah saya tempuh, dan seberapa bertambah remuk tubuh saya setelah itu. Terima kasih untuk teman-teman ESA yang sudah membantu saya dan mau mengerti keadaan saya (yang sebenarnya cukup egois). Lagi, hanya Allah yang akan membalas dengan balasan yang jauh lebih baik, aamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: