Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Memet Sudaryanto (versi sedikit lebay, hehe )

on August 18, 2011

Subhanallah, kata yang ingin saya ucapkan saat saya bertemu dengannya. Entah apa yang telah dituliskan Allah sehingga saya dipertemukan dengannya. Yang saya yakini segala takdir Allah adalah dengan benar adanya. Inilah persaudaraan. Saat dia menginginkan saya menjadi lebih baik, maka bukan pujian yang dia berikan namun ‘cercaan’ mengenai semua keburukan yang ada. Begitulah caranya mencintai saya, mencintai karena ingin yang terbaik untuk saya, mencintai sebagai wujud syukurnya pada Tuhan.
Dia bilang aku orang yang tidak memperhatikan warna sepatu saat wawancara. Hmm…tanpa tahu artinya apa, tapi aku senang. Ternyata ada yang masih peduli dengan caraku. Selama ini aku melakukan semuanya sesukaku dengan caraku. Ternyata banyak bagian yang tidak pas bagi orang lain ( dan tentunya bagi kebaikan saya sendiri). Saat yang lain tidak memperhatikan hal-hal kecil, dia dengan senang hati menunjukkan kekurangan saya di sana sini, kesalahan saya dalam bersikap dan mengambil keputusan. Caranya sangat indah, tidak membuat saya marah dan tidak membuat saya merasa kecewa. Melainkan member saya semangat baru. Begitulah seharusnya dua orang yang bersaudara karena Allah. Meski sampai sekarang saya masih bingung dengan idiom itu, saya sepertinya bisa memangkap artinya, saya terlalu fokus pada yang besar2 sehingga melupakan yang kecil2, padahal yang kecil2 itu sangat berpengaruh bagi orang lain. Beginilah resiko jadi orang-orang public sekaligus kemuliaan.
Dialah saudara yang dikirim Tuhan untuk saya, saat yang lain hanya bisa memuji, dia mencerca. Saat yang lain hanya bisa menurut, dia memarahi saya. Saya bersyukur dipertemukan dengan dia. Tanpa tahu bagaimana latarbelakangnya, bagaimana sifatnya, saya merasa sudah mengenalnya sekian lama. Semoga Allah memuliakannya dan merahmatinya selalu setiap saat setiap waktu. Amin. Adikku yang mempunyai mimpi-mimpi besar.

Advertisements

One response to “Memet Sudaryanto (versi sedikit lebay, hehe )

  1. otem says:

    memet bukan sosok yang begitu indah, ia hanya seorang yang tak tau adat sehingga banyak pula yang tak suka. ia mecoba mengucapkan hal yag apa adanya hingga semua membencinya, dan membuatnya berhenti berkata apa adanya.. ia hanya sosok yang takut dicerca dan takut kehilangan, sahabatt.,.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: