Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

(Melupakan) PIMNAS 2011

on August 18, 2011

Mimpiku entah yang keberapa. Kutuliskan bahwa saya akan mencatatkan nama dalam daftar peserta PIMNAS setelah lolos PKM DIKTI. Sungguh bahagia, setelah gagal di mawapres Allah memberikan kebahagiaan yang berlipat, lolos PKM DIKTI 2 judul. Sebuah kebanggaan. Beberapa hari sebelumnya saya mengabari orang tua saya bahwa saya belum berhasil lolos seleksi mawapres (bahkan tingkat prodi). Kini saya mengabari bahwa saya lolos PKM 2 judul sekaligus.
Bukan perkara yang mudah mencapai hal ini. Dua tahun saya berjuang untuk bisa lolos PKM, dua kali saya gagal. Dalam percobaan yang ketiga Allah menjawab do’a saya. Sebuah ide gila yang saya dapatkan dari mbak kost saya tentang pemanfaatan pandan di pantai Nampu, sebuah pantai di ujung wonogiri. Awalnya saya sangat bersemangat mendengar cerita tentang keindahan pantai tersebut. Lalu saya tawarkan ide itu ke teman saya reni (yang sama gilanya dengan saya) dan jadilah proposal PKM. Beniat jalan-jalan dan survey, kamipun berangkat ke pantai Nampu bersama novie ariyanto (bos geng kami). Astagfirullah, pantai Nampu itu memang indaaaaaaaahhhhhhh tapi jjjjjjjjjjjjaaaaaauuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhnya minta ampun. Meskipun begitu dengan semangat 45 dan niat lillahita’ala yang agak dipaksakan kami mantap mengirim proposal itu dan lolos.
(ketika itu saya sempat berpikir, kan pandan-pandan itu untuk mencegah abrasi dan melindungi warga dari angin laut, kalau ditebang nanti bagaimana ya???)
Proposal kedua berawal dari ide gila seorang adik tingkat bernama Memet Sudaryanto prodi bahasa Indonesia. Dengan nada innocent dia meng-sms saya dan minta ketemu. Lalu dia mengutarakan niatnya untuk membuat PKM bertema pentas wayang kulit berbahasa Inggris (cukup gila juga, tapi ini sangat kreatif dan saya optimis akan lolos) akhirnya dengan bersudah payah membagi waktu, tenaga, dan pikiran, proposal itu jadi walau tidak maksimal (dan saya kini menyadari betapa fatalnya hal itu karena proposal juga masuk criteria penilaian yang vital).
Lolosnya dua PKM membuat saya bahagia sekaligus bingung. Akhirnya dengan kesepakatan bersama antara saya, reni, dan novie, PKM di Nampu akan kami laksanakan dengan baik tapi standar saja (mengingat agak ribet dan jarak tempuh yang membuat badan pegal). Sementara itu saya yakin dan maksimal di PKM yang dalang berbahasa Inggris. Meskipun begitu, PKM di nampu juga menguras tenaga dan waktu. Dua kali saya dan reni bolak balik ke jogja. Yang pertama mencari bahan dna yang kedua hanya ngambil foto pas kami belanja karena yang dulu lupa belum dipoto. Sementara itu novie kami minta bolak balik ke nampu untuk lobbying dan mempersiapkan disana. Setelah itu saya dan reni beberapa malam harus lembur dikost novie untuk belajar membuat kerajinan tangan (hal yang sama sekali tidak kami kuasai). Untung kami ada teman yang kreatif, mbak rina. Kami giring dia untuk menjadi instruktur singkat kami. PKM di nampu pun berjalan lancar. Sekarang saatnya fokus ke dalang.
Saya di tim dalang bersama memet dan neni. Kami melihat latihan, menerjemahkan naskah dan berlatih bahasa jawa. Pada awalnya saya dibuat terkagum kagum dengan filosofi wayang yang disampaikan pelatih, kedua saya terkesima dengan SMK 8 Solo, tempat kami melaksanakan program. Sekolah ini sangat berbudaya dan sudah diakui dunia. Pertengahan Mei kami melakukan pementasan. Waktu itu utuk pertama kalinya saya mengenakan kebaya dan berdandan (didandani mbak kost). Saya bertugas menjadi MC bahasa inggris dan memet bertuga menjadi MC bahasa Jawa. Untuk bisa menjadi pranoto hadicoro memet harus berlatih keras dan berkali-kali saya olok2. Akhirnya pementasan berjalan lancar dan mendapat sambutan yang baik. Kami sangat yakin dengan program ini bahkan sudah membayangkan terbang ke Makassar dan berfoto di pantai Losari. Bayangan itu kian dekat ketika pada saat movev kami mendapat antusias yang sangat besar dari juri. Terlebih lagi, dosen pembimbig kami juga menyampaikan optimismenya dengan program kami (menurut cerita beliau sudha mendapat bocoran dari juri). Semakin besar kepala lah kami.
Hari pengumuman pun tiba. Saat itu saya sedang liburan di Bali. Saya mendapat sms bahwa pengumuman pimnas sudah dirilis. Saya coba buka pakai hape bapak saya yang lebih canggih dari hape saya, ternyata PDFnya tidak bisa dibuka. Saat itu saya yang tengah harap-harap cemas coba menghubungi memet, dia menjawab :” kakak, taukah kamu saat ini orang-orang sedang mengucapkan selamat”. Saya sangat bahagia dengan berita itu, namun saya belum yakin. Saya coba menghubungi rekan-rekan yang ada di solo, neni, novi dan reni. Neni yang saat itu menjadi ketua tim PKM dalang hanya menjawab: :”aku belum dihubungi mbak.”, lalu reni dan novi mengabarkan berita yang seketika meruntuhkan mimpi saya yang sudah melambung. “iya, pengumuman udah keluar. Tapi PKM dalang gak ada. Tapi nama memet ada, dia lolos untuk PKM yang satunya, calistung buat anak-anak jalanan”. Saya hanya bisa lemas dan mencoba mengikhlaskna keputusan dewan juri PIMNAS. Saya juga harus mengubur mimpi saya terbang ke makasar untuk sementara waktu. Saat saya sudah mengetahu berita yang terjadi, memet masih saja coba merahasiakan apa yang terjadi. Saya tau saat itu dia pasti sangat bimbang, antara kebahagiaannya bisa ke makasar untuk PIMNAS dan kesedihannya karena saya dan neni harus kecewa.
Lagi, saya harus kecewa dan harus melapangkan dada untuk menerima takdir Allah. Tapi saya tidak terlalu kecewa, paling tidak ada saudara saya, memet, yang akan menceritakan pada saya bagaimana PIMNAS dan membawakan foto pantai losari untuk saya. Saya harus mengucapkan selamat pada memet dan timnya yang satu lagi. Agak berat, tapi sungguh saya bisa mengikhlaskannya. Sementara saya hanya bisa ikut mendownload panduan pimnas, day abaca dan membayangkan saya ada di Universitas Hasanuddin, Makassar bersama untusan universitas se Indonesia. Saya hanya meyakini satu hal, Allah tidak mewujudkan mimpi saya, maka sebenarnya dia sedang menyiapkan mimpi yang lebih besar untuk menjadi nyata, aamin.
Kekecewaan tidak lolos PIMNAS cukup cepat saya lupakan karena saya juga ada banyak amanah dan kegiatan yang harus dijalankan.mungkin itu salah satu hikmahnya saya tidak lolos ke Makassar, mungkin jug asaya bisa takabur dan sombong kalau Allah mengabulkam semua mimpi saya. Saya mencoba mencari sebanyak mungkin nilai positif yang bisa saya ambil karena saya yakin Allah lebih tahu apa yang saya butuhkan daripada apa yang saya inginkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: