Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Andai Para Koruptor Ingat Tuhannya Oleh: Atin Kurniawati

on August 18, 2011

Pada akhirnya semua manusia akan mati dan kembali pada rabbnya. Dunia adalah tempat menanam kebaikan yang akan menentuka posisi manusia kelak dihadapan Tuhannya. Barangsiapa menanam kebaikan maka baginya tempat kembali yang terbaik dan barangsiapa yang menanam keburukan maka baginya seburuk-buruknya tempat kembali. Maka dari itu secara naluriah manusia kan senantiasa melakukan kebaikan untuk meraih sebaik-baik tempat kembali, surga. Namun, Tuhan tidak ingin manusia menjual surga dengan harga yang murah, maka diciptakan olehnya setan untuk menggoda manusia. Logika ini tentu dengan mudah dapat dipahami oleh orang-orang biasa apalagi orang-orang berpendidikan tinggi. Dengan adanya kesadaran terhadap kehidupan akhirat dan adanya tipudaya setan tentunya manusia akan senantiasa berusaha untuk tidak melakukan kebatilan di dunia ini, termasuk di dalamnya tindakan korupsi yang sedang menjamur di negeri ini.
Korupsi merupakan tindakan batil yang tidak saja membuah dosa bagi pelakunya namun juga mengakibatkan kerugian bagi banyak orang. Ironisnya, tindakan korupsi di negeri ini banyak dilakukan oleh mereka yang berpendidikan tinggi dan memiliki kedudukan. Secara logika, mereka adalah orang-orang terpilih untuk menjadi pemimpin namun kenyataannya mereka (baca: koruptor) tidak dapat mengemban amanah yang mereka minta sendiri. Sejatinya mereka sedang menyakiti diri mereka sendiri dan oring-orang yang dipimpinnya sehingga kemakmuran terasa semakin jauh. Menyakiti diri mereka sendiri berarti secara sadar menjemput dosa dan merencanakan kehidupan kekal di neraka sedangkan menyakiti orang lain berarti melanggar hak orang lain dan menyebabkan kerugian baginya.
Motivasi para koruptor bisa jadi bermacam-macam namun apapun motifnya korupsi tetaplah korupsi yang mendatangkan keburukan bagi banyak orang. Koruptor yang mempunyai motif untuk memperkaya diri bisa jadi paling banyak jumlahnya. Alangkah lucunya para koruptor ini. mereka yang notabene sudah kaya masih ingin kaya dengan berbohong dan mencuri. Betapa tidak bersyukurnya mereka dengan keadaan mereka yang umumnya berasal dai kalangan berada. Mereka bahkan secara sengaja membuang-buang harta untuk membangun citra dan dapat terpilih menjadi pemimpin namun pada akhirnya mengambil jatah rakyat untuk menggani uang pribadinya. Pemimpin itu sejatinya melayani rakyat bahkan berkorban untuk rakyat tapi para koruptor malah meminta-minta pada rakyatnya. Selain itu, koruptor merupakan orang yang tidak dapat memimpin dirinya untuk menjadi manusia yang baik, bagaimana bisa dia ‘meminta’ untuk dijadikan pemimpin bagi banyak orang. Mereka lupa bahwa kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhannya yang tidak dapat dibohongi samasekali.
Koruptor dapat juga berwajah malaikat dengan memanfaatkan uang korupsi untuk membantu kaum fakir daripada uang tersebut dikorupsi oleh orang lain untuk memperkaya diri sendiri. Memang nampaknya niat ini sangat baik, namun Tuhan tidak pernah memberi jalan keburukan untuk beramal kepadanya. Bahkan beramal dengan uang hasil korupsi bisa jadi memasukkan harta haram ke dalam tubuh orang lain. Tindakan mereka ini juga mengimplikasikan bahwa mereka ‘mengijinkan’ tindakan korupsi. Bagi mereka yang berhati mulia hendaknya jangan mengotori amal mereka dengan harta haram barang sangat sedikit.
Apapun motivasinya koruptor tetaplah koruptor dan harus ditindak secara hukum. Ironisnya para koruptor di negeri ini seakan kebal hukum walau mereka sudah menyebabkan kerugian bagi bangsa dan negara. Hal ini terlihat dari banyaknya kasus korupsi yang tak kunjung usai walau kasusnya sudah gamblang namun terkesan berbelit-belit dan mempermainkan hukum. Masyarakat semakin dikecewakan lagi dengan sikap para koruptor yang tidak gentle dengan kabur keluar negeri untuk menghindari tindakan hukum dan dengan berbagai dalih menolak untuk kembali ke negeri yang sudah dicederai olehnya. Aparat hukum boleh saja tidak menemukan mereka namun siapakah yang dapat sembunyi dari pengawasan Tuhan dan siapakah yang dapat menghindari kematian.
Seandainya para koruptor mengingat kematian dan kehidupan sesudah mati tentu mereka tidak akan sampai hati melakukan tindakan korupsi. Sebagian mereka tentunya sudah berulangkali menghadiri upacara pemakaman namun mereka lupa bahwa suatu saat mereka juga akan merasakannya. Betapa hinanya mereka apabila akhir hidup mereka mendapat gelar sebagai koruptor. Sebagian mereka pasti juga tidak menyadari bahwa sekian banyak orang mendoakan agar ajalnya dipercepat. Hidup dibenci oleh manusia mati dicampakkan oleh Tuhannya. Sungguh malang orang-orang yang memilih kehidupan dunia dengan cara yang jauh dari terhormat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: