Apakah di dunia ini ada orang yang bangga dengan kekurangannya? Saya yakin tidak ada. Yang ada adalah mereka yang menemukan jawaban kenapa dia diberi kekurangan dan kemudian dia mensyukuri kekurangannya dengan cara yang baik, yang membelajarkan orang lain, tapi dia tidak bangga, hanya dia bisa bersyukur.
Penyakit lupa saya mungkin sudah sangat akut hingga terlalu banyak barang-barang yang hilang, kunci motor, hape, laptop, dan barang-barang kecil lainnya. Apakah saya melakukannya dengan sengaja? Tidak. Apa saya bangga melakukannya? Sama sekali tidak. Apakah ada anak yang bangga menghilangkan barang-barang yang dibelikan oleh orangtuanya dengan kerja keras. Lalu kenapa saya selalu bersikap biasa dan tida panic setiap ada yang hilang? Bukan karena saya tidak khawatir dan mengikhlaskan semua pada awalnya. Saya pasti berusaha mencari dan menghubungi siapapun, hanya saja saya tidak bisa panik dalam hal-hal seperti ini. Mungkin adalah kombinasi apa yang selalu diajarkan ayah saya agar tidak panic dalam kondisi apapun dan keyakinan akan rejeki Allah. Kalau ada masalah yang terjadi,misalnya kunci motor hilang, maka solusi terbaik bukan dengan menjadi panic, tapi dicari lagi, menghubungi teman-teman yang sekiranya tahu, dan kalau benar-benar tidak ditemukan, segera panggil tukan kunci, selesai. Satu lagi, mengambil pelajaran dan berusaha tidak mengulanginya. Saya tekankan kata berusaha, karena saya hanya bisa berusaha dengan sebaik-baiknya, kalau toh masih ada yang hilang lagi itu diluar kendali saya.
Rejeki manusia tidak akan tertukar. Kalau kita sudah berusaha semaksimal mungkin meraih rejeki dan ternyata tidak bisa maka itu bukan rejeki kita, sesederhana itu. Kata kuncinya adalah berusaha semaksimal mungkin . Tidak perlu menjadi frustasi. Kalau barang-barang yang hilang itu masih rejeki saya maka pasti akan kembali. Kalau bukan, berarti itu sudah bukan rejeki saya lagi, toh semua yang kita punya bukan milik kita.
Jadi, apakah saya sudah bisa menemukan sisi baik dari kekurangan saya ini? Entahlah, mungkin ini bisa jadi hikmah bagi yang lain –walau lebih sering merepotkan yang lain- atau saya menjadi lading amal bagi mereka yang membantu saya, menjadi penyebab datangnya pahala dengan membantu saya, hehe
Saya pun tidak suka menjadi pelupa, tapi saya lebih tidak suka menjadi panic dan frustasi.


